Teks foto:
BENGKALIS — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Bengkalis. Hingga Selasa, 8 September 2026, Satgas Gabungan Karhutla masih berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik yang tersebar di Kecamatan Mandau, Pinggir dan Talang Muandau.
Laporan harian Pusdalops-PB BPBD Kabupaten Bengkalis, Sutrimo, tercatat 5 kejadian Karhutla dengan total luas lahan terdampak sekitar 63 hektare, meliputi Kecamatan Mandau sekitar 20 hektare, Kecamatan Pinggir sekitar 33 hektare dan Kecamatan Talang Muandau sekitar 10 hektare.
Di Kecamatan Mandau, kebakaran terjadi di kawasan Jl. Tegar Kanal Cipto, Kelurahan Pematang Pudu, dengan kondisi lahan berupa semak belukar dan perkebunan sawit di atas tanah gambut. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare. Tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pendinginan guna memastikan tidak kembali munculnya titik api.
Sementara itu, di Kecamatan Pinggir, Karhutla terjadi di sejumlah lokasi, di antaranya Buluh Apo, Pangkalan Libut dan Desa Sungai Meranti, dengan total luasan terdampak sekitar 33 hektare. Upaya pemadaman, pendinginan dan pemantauan terus dilakukan oleh Satgas Gabungan.
Sedangkan di Kecamatan Talang Muandau, Karhutla terjadi di kawasan Desa Tasik Serai Timur dengan luasan sekitar 10 hektare. Kondisi lahan gambut yang kering, cuaca panas serta angin kencang menjadi tantangan bagi petugas dalam melakukan pengendalian api.
Kalaksa BPBD, Salman Alfarisi, Turun Langsung ke Lokasi Sebagai bentuk keseriusan Pemerintah Kabupaten Bengkalis dalam penanganan Karhutla, Kalaksa BPBD Kabupaten Bengkalis bersama Kabid Kedruratan dan Logistik, Ronny Effriadi, turut hadir dan turun langsung ke lokasi kebakaran, memantau perkembangan penanganan serta memastikan personel dan sarana prasarana yang dikerahkan dapat bekerja secara optimal.
Kehadiran Kalaksa BPBD di lapangan sekaligus memperkuat koordinasi bersama Satgas Gabungan Darat yang terdiri dari unsur BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, MPA, pemerintah kecamatan/desa serta masyarakat.
Kalaksa BPBD menekankan bahwa penanganan Karhutla tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga pendinginan dan pemantauan pascapemadaman, khususnya pada lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan.
Di tengah masih berlangsungnya penanganan Karhutla di sejumlah wilayah, kabar baik datang dari Kecamatan Siak Kecil dan Kecamatan Rupat. Berdasarkan pemantauan dan laporan petugas di lapangan, titik api di kedua wilayah tersebut telah dinyatakan padam total.
Meski demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak terdapat bara api maupun asap yang berpotensi memicu kembali kebakaran, mengingat kondisi cuaca panas dan kering masih meningkatkan risiko Karhutla.
Masyarakat juga diingatkan untuk tetap mengikuti informasi resmi terkait perkembangan kualitas udara dan Karhutla dari pemerintah serta instansi terkait. Dengan ISPU mencapai 149 dan berstatus Tidak Sehat pertanggal 8 September 2026, kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan.
Lindungi diri, gunakan masker, kurangi aktivitas di luar ruangan, dan bersama-sama cegah terjadinya Karhutla.
#salamtangguh