Minggu, 20 Oktober 2019 | 14:58:51 WIB | Dibaca : 381 Kali

Literasi Pengurangan Risiko Bencana Melalui Jalur Wisata

Editor : Internet - Reporter : Internet - Fotografer : Internet
Literasi Pengurangan Risiko Bencana Melalui Jalur Wisata Teks foto:

JAKARTA - Bak dua sisi mata uang, keberadaan Indonesia di jalur pertemuan tiga lempeng tektonik Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik disatu sisi membuatnya menjadi salah satu negara dengan aktivitas seismik dan vulkanik yang sangat tinggi. Sedangkan disisi lain aktivitas tektonik tersebut membentuk rupa bumi atau bentang alam yang sangat indah baik di daerah pantai maupun di daerah gunung yang langsung berhadapan dengan pertemuan lempeng tersebut.

Aktivitas seismik dan vulkanisme membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang sering terlanda bencana alam geologi seperti gempa bumi, tsunami, gunungapi dan gerakan tanah. Contoh nyata dari aktivitas ini adalah kejadian bencana besar tahun 2018 yang terjadi susul menyusul mulai dari gempa bumi Lombok pada bulan Juli – Agustus 2018, gempa bumi dan tsunami Palu pada tanggal 28 September 2018, Tsunami Selat Sunda pada tanggal 22 Desember 2018 dan kejadian longsor Cisolok dipenutup tahun tanggal 31 Desember 2018 sehingga banyak ahli menyebutkan bahwa tahun 2018 sebagai tahun bencana.

Dampak dari kejadian – kejadian ini membuka kembali lembar sejarah bahwa Indonesia belum memiliki persiapan yang baik dalam upaya pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan banyaknya korban dan kerugian harta benda. Upaya-upaya yang dilakukan selama masih belum maksimal karena masih bersifat parsial dan belum menyentuh semua lini masyarakat Indonesia. Dari kejadian ini Pemerintah mulai lebih memperhatikan upaya mitigasi sebagai suatu hal yang penting melalui perencanaan penganggaran yang lebih besar dan inisiasi kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah dan universitas-universitas.

Berkaca dari lemahnya upaya mitigasi selama ini, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam upaya pengurangan risiko bencana diantaranya 1. Kompleksitas bencana yang terjadi disetiap daerah Indonesia sehingga perlu adanya perbedaan metode dalam pengurangan risiko bencana. BNPB mencatat ada 18 (delapan belas) jenis bencana di Indonesia baik yang disebabkan oleh faktor Alam, Non Alam maupun oleh faktor manusia yang tentunya memiliki 18 skenario mitigasi juga. 2. Tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat yang masih rendah sehingga menganggap upaya pengurangan risiko bencana sebagai upaya yang sia-sia apalagi kalau kita melihat rentang waktu atau siklus kejadian bencana yang cukup lama membuat upaya ini cepat dilupakan masyarakat. 3. Penolakan dan ketakutan dari beberapa kalangan mengingat lokasi yang berpotensi bencana adalah daerah-daerah yang memiliki potensi ekonomi yang tinggi sehingga apabila upaya pengurangan risiko bencana digalakkan secara lebih intensif ditakutkan investor akan ragu menanamkan modalnya didaerah tersebut.

Tantangan-tantangan ini perlu dicarikan solusi yang efektif sehingga upaya-upaya mitigasi kedepannya dapat membawa hasil signifikan yang dapat tercermin dari berkurangnya korban jiwa dan harta benda dari kejadian bencana yang berpotensi terjadi kedepan. Tentunya dalam melakukan itu, parameter-parameter penghambat diatas harus menjadi acuan untuk membuat program-program inovatif.

Salah satu konsep yang dapat dilakukan adalah konsep pembelajaran langsung di alam dimana masyarakat dikenalkan langsung karakteristik potensi bencana dan cara-cara mitigasinya. Konsep ini bertujuan agar upaya mitigasi lebih mudah dipahami oleh masyarakat karena hampir semua indra berinteraksi dengan pembelajaran dan bukan merupakan suatu momok yang menakutkan karena dibawa dengan metode yang menyenangkan di alam.

Pada prakteknya kegiatan pendidikan langsung di alam ini membutuhkan anggaran yang lebih besar dari pendidikan diruangan tetapi dengan inovasi, konsep ini bisa malah gratis dan peserta sendiri dengan sukarela membayar untuk pembelajaran ini. Konsep yang paling mungkin untuk hal tersebut adalah melalui wisata.

Tentunya bukan wisata biasa tapi wisata bertema khusus atau minat khusus yaitu wisata mitigasi. Wisata dan mitigasi apabila dilihat memiliki arti dan tujuan yang jauh berbeda dimana wisata yang berarti bepergian bersama-sama untuk memperluas pengetahuan, dan bersenang-senang; sedangkan mitigasi memiliki arti serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Kedua kosakata ini dapat dikolaburasi dalam istilah wisata mitigasi yang memiliki pengertian yang sederhana yaitu berwisata atau bersenang-senang sambil mempelajari langsung dilapangan tentang potensi bencana dan upaya pengurangan risikonya.

Mengawinkan wisata dan mitigasi di wilayah Indonesia adalah hal yang mungkin dilakukan karena wilayah yang berpotensi bencana di Indonesia adalah juga wilayah yang memiliki potensi wisata yang besar. Contoh saja pantai Anyer yang terdampak tsunami tanggal 22 Desember 2018 kemarin merupakan daerah tujuan wisata yang diminati oleh warga sekitar ibu kota Jakarta. Terbukti sebagian besar korban bencana berasal dari wisatawan yang sedang menghabiskan liburan panjang Natal dikawasan tersebut. Tentunya hubungan antara potensi bencana tinggi dan potensi wisata besar ini bukan kebetulan karena proses tektonik dan vulkanik membentuk rupa pantai yang indah dan nyaman untuk bersantai didaerah tersebut.

Konsep mitigasi dalam wisata bukan selalu tentang menakut-nakuti wisatawan tapi tentang memberikan pemahaman dan pembelajaran tentang bumi yang mereka tinggali baik dari segi keindahan alam sebagai berkah dan potensi bencana sebagai ujian tuhan sehingga konsep mitigasi bisa sangat menyenangkan untuk dilakukan dalam kegiatan wisata apalagi kegiatannya di tempat-tempat wisata yang indah. Jadi paradigm mitigasi yang dapat membawa ketakutan bagi investor dan wisatawan dapat dieliminir sehingga upaya-upaya mitigasi dapat berjalan beriringan dengan pembangunan dibidang ekonomi.

Sebagai konsep wisata minat khusus, wisata mitigasi bukan hanya menyajikan keindahan alam kepada wisatawan tapi memberikan pemahaman yang lebih tentang bagaimana keindahan alam itu terbentuk dan potensi bencana yang bisa terjadi. Tentunya apabila tidak dibuat aplikasi khusus konsep ini hanya akan menjadi konsep yang bersifat abstrak. Untuk membuat paket wisata jenis ini tentunya harus ada komitmen yang kuat dengan pengelola wisata yang membuat paket-paket wisata. Tentunya dengan memberikan banyak sosialisasi dan pemahaman yang dapat meyakinkan pelaku wisata dan tour guide sehingga mereka bisa membuat paket wisata minat

khusus ini dengan menyajikan informasi-informasi yang bersifat interaktif tentang daerah-daerah yang dikunjungi.

Konsep ini secara tidak langsung sudah mulai digaungkan oleh Masyarakat Geowisata Indonesia (MAGI) yang berada dibawah naungan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI). Salah seorang Praktisi Geowisata Mas Reza Permadi telah secara mandiri membuka paket wisata Geotour Gempa Bumi Palu. Kegiatan tour ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada wisatawan akan proses geologi yang terjadi dilokasi bencana dan kegiatan-kegiatan mitigasi yang dapat dilakukan sesuai dengan potensinya. Tour ini merupakan salah satu contoh paket wisata yang mengkombinasi antara tujuan utama berwisata dan upaya mitigasi dan bisa menjadi contoh real yang dapat dikembangkan oleh pengelola wisata dimasing-masing daerah untuk membuat paket wisata khusus seperti ini.

Selain itu, kosep ini bisa bersinergi dengan konsep geopark yang sudah lebih dulu dikembangkan oleh UNESCO Global Geopark (UGG) dan pemerintah Indonesia dimana Indonesia sudah memiliki 4 (empat) UUG yaitu Geopark Batur, Geopark Gunung Sewu, Geopark Ciletuh Pelabuhan Ratu dan Geopark Rinjani Lombok. Keempat geopark ini memiliki keindahan dan keunikan geologi dan juga memiliki potensi bencana. Sebut saja Geopark Rinjani Lombok dimana semua wilayah yang terdampak gempa Lombok kemarin masuk dalam wilayah geopark. Oleh karena itu, bisa dikembangkan paket wisata geosite tangguh bencana didalam kawasan geopark yang memiliki potensi bencana dengan kegiatan berupa edukasi kegeologian, konservasi daerah rawan bencana geologi dan pengembangan ekonomi masyarakat. Tentunya dengan ditetapkannya geosite tangguh bencana ini setiap wisatawan yang akan mengunjungi geosite ini akan mendapatkan edukasi kebencanaan dari pengelola geosite baik itu berupa potensi bencana maupun langkah-langkah yang telah masyarakat didaerah itu lakukan dalam upaya mitigasinya.

Sebagai kata penutup agar upaya mitigasi dapat berhasil perlu adanya sinergi antar lembaga pemerintahan, swasta dan masyarakat dengan melakukan kegiatan-kegaitan yang kreatif dan inovatif sehingga upaya mitigasi tidak hanya bergantung pada jumlah anggaran tapi malah menjadi penyokong pendapatan bagi penggiat wisata mitigasi sehingga efektivitas dan hasil yang maksimal dapat tercapai.

 

Pemenang "the best category" Blog Lomba Kreativitas Tangguh Award 2019

Kusnadi - Ahli Mitigasi Bencana Geologi

S1 : Geologi Unhas

S2: Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation (ITC) University of Twente, The Netherlands